Kamis, 13 Januari 2011

Setengah abad merawat cinta-keluarga DARBAN

“Alangkah sangat baiknya dan sangat sempurna amal kita apabila kita mempunyai daftar nama anak-anak yatim dan ibu jandanya di kampung kita masing-masing.

Anak-anak yatim dan ibunya tersebut kan kita jadikan ladang tempat kita bertanam amal.

Insya Allah, Allah menyaksikan keperdulian kita kepada anak yatim ini.

Insya Allah, Allah sangat ridha dengan amal usaha kita ini.

Bukankah ridha Allah yang selama ini kita cari, dan pahalanya yang senantiasa kita nanti-nanti ?”




Demikian ajakan Darban Aminah kepada siapapun termasuk anda untuk memberikan sebagian rizki kita kepada anak yatim ibu2 jandanya.
Tidak salah jika usaha menyantuni kaum dhuafa ini adalah proyek syurga yang mereka yakin kelak akan memetiknya pada hari akhir nanti.berbagai kemudahan pun telah mereka rasakan, hingga tak putus-putusnya mereka bersyukur kepada Allah. Selain anak-anak kandungnya darban dan Aminah merasa bahwa anak2 yatim atau piatu yang mereka didik dan biayai telah memberikan kekuatan moral yang luar biasa bagi keberlangsungan hidup mereka.

Hingga saat ini, jumlah kaum dhuafa yang menjadi tanggungan darban dan aminah berjumlah 114 anak yatim/piatu, 65 orang lanjut usia dan 61 wali anak warga santunan, jumlah yang terus meningkat dari catatan tarbawi di tahun 2006 lalu, yang berjumlah 20 anak yatim/piatu, 51 keluarga tidak mampu.

==============================================

Pesan darban dan aminah untuk para keluarga muda

58 tahun adalah waktu yang tidak singkat. Dari detik ke detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun berganti, darban dan aminah telah mengurai kehidupan yang manis dan pahit telah mereka lalui bersama, karena itu sungguh layak bila mereka memberikan nasehat sederhana kepada para keluarga muda yang baru mengarungi samudera kehidupan di atas bahtera yang masih baru.

Aminah lebih dahulu mengatakan bahwa kedudukan suami dan istri adalah sama, karena itu seharusnya mereka saling menghormati, saling mendukung, atau saling berkorban untuk mempertahankan ikatan cinta di antara mereka. “Jangan sampai salah satunya menyepelekan atau meremehkan orang lain” kata aminah.



Selain itu ia berpesan “Jangan pernah melupakan para dhuafa, fakir miskin, dan anak yatim. Boleh pikiran melambung tinggi namun ingat penderitaan kaum yang di bawah, sebab kunci rahmat Allah ada di tangan mereka”. Pesan itu sangat kuat relevansinya situasi saat ini, karena tuntutan materi yg besar, berdampak pada orientasi kebanyakan keluarga yang individualistic, tidak perduli dengan situasi masyarakat di sekitarnya. Jika semangat untuk peduli terhadap fakir miskin tumbuh dengan baik, boleh jadi banyak kejadian seperti gizi buruk yang berujung kematian pada bayi atau keluarga yang bunuh diri karena himpitan ekonomi tidak akan pernah terjadi.

Dan tampaknya nasehat darban tepat untuk dijadikan penutup uraian perjalanan setengah abad mereka dalam merawat cinta. Darban mengatakan “perkembangan zaman bisa membuat banyak pihak menjadi korba. Maka yang dipentingkan adalah aqidah. Sekarang ini suliat jika hanya mengandalkan pada aspek ekonomi, status dan sebagainya. Semangat menuntut ilmu agama harus selalu di giatkan. Selain itu kemudahan dalam mengatasi peristiwa2 besar yang terjadi dikeluarga adalah cermin satunya visi antara suami dengan istrinya. Jika itu ada maka semua masalah menjadi tidak ada artinya.”

1 komentar:

  1. Subhanallah... enak dh dengar tiap kata2 yang tertulis disana. Sederhana & bijak bgt.

    Kita kan stres jika terus melihat ke atas (red: jumlah kekayaan), sebaliknya kita akan tenang jika selalu melihat ke bawah (masih banyak yg kurang beruntung, trs bersyukur & berbagi dg mereka yg membutuhkan)

    Islam, Rahmatan Lil'alamin

    ditunggu bu yg selanjutnya. SEMANGAT!!!

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...